Nama : Ria Adi Purnama
Kelas : 6E
MK : Sintaksis
Soal
1. Apakah ada perbedaan makna referensial dan
nonreferensial?
2. Mengapa makna afektif lebih terasa secara lisan
daripada tulisan?
3. Jelaskan perbedaan makna stilistika?
4. Jelaskan perbedaan mendasar idiom penuh dan idiom
sebagian?
5. Jelaskan idiomatikal dan peribahasa?
6. Jelaskan perbedaan makna istilah dan makna kata?
7. Jelaskan maksud yang sama antara idiom, ungkapan,
dan metafora?
8. Jelaskan makna leksikal dan makna denotatif?
9. Jelaskan makna konotatif dapat berubah dari waktu
ke waktu?
10. Jelaskan makna kolokatif?
Jawab
1.
Makna referensial dan nonreferensial ada perbedaannya. Letek perbedaannya yaitu
berdasarkan ada tidak adanya referen dari kata-kata itu. Bila kata-kata itu
mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu maka
kata tersebut disebut kata bermakna referensial. Kalau kata-kata itu tidak
mempunyai referen maka kata itu disebut kata bermakna nonreferensial. Kata meja
dan kursi termasuk kata yang bermakna referensial karena keduanya mempunyai
referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut “meja” dan “kursi”.
Sebaliknya kata karena dan kata tetapi termasuk kata yang bermakna
nonreferensial.
2. Makna afektif lebih terasa secara lisan
daripada tulisan karena makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara
pemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawan bicara maupun terhadap objek
yang dibicarakan. Pengungkapan perasaan akan lebih jelas secara lisan dari pada
tulisan karena intonasi bicara lebih kuat terdengar. Itulah sebabnya makna afektif
lebih terasa secara lisan daripada tertulis.
Contoh:
·
“Tutup mulut kalian!” bentaknya kepada
kami.
·
“Coba, mohon diam sebentar!” katanya
kepada anak-anak itu.
3.
Perbedaan makna stilistika yaitu berkenaan dengan gaya pemilihan kata sehubung
dengan adanya perbedaan sosial dan bidang kegiatan di dalam masyarakat. Karena
itulah, dibedakan makna kata rumah,
pondok, istana, keraton, kediaman, tempat tinggal, dan residensi. Begitu juga dibedakan makna kata guru, dosen, pengajar, dan instruktur.
Letak perbedaan pada kata-kata di atas yaitu berhubungan dengan perbedaan
sosial yang rendah, menengah, dan atas. Akibat perbedaaan status sosial
tersebut maka kata yang digunakan juga berbeda.
4.
Perbedaan mendasar idiom penuh dan idiom sebagian yaitu terletak pada pengertiannya.
Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan
suatu kesatuan dengan satu makna, seperti yang sudah kita lihat pada contoh membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau. Sedangkan pada idiom
sebagian masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri, misalnya daftar hitam yang berarti ‘daftar yang
berisi nama-nama orang yang dicurigai atau dianggap bersalah’, koran kuning yang berarti ‘koran yang
sering kali memuat berita sensai’, dan menunjukkan
gigi yang berarti ‘menunjukkan kakuasaan’. Kata daftar, koran, dan
menunjukkan pada idiom-idiom tersebut masi memiliki makna leksikal; yaitu ‘daftar’, ‘koran’, dan menunjukkan’, yang
bermakna idiomatikal hanyalah kata-kata hitam, kuning, dan gigi dari
idiom-idiom tersebut.
5.
Idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (entah kata, frase, atau kalimat)
yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna idiom
sebuah kata (frase atau kalimat) tidak ada jalan lain selain mencarinya di
dalam kamus. Makna peribahasa adalah makna yang masih dapat diramalkan karena
adanya asosiasi atau tautan antara makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur
pembentuk peribahasa itu dengan makna lain yang menjadi tautannya. Umpamanya
dua orang yang selalu ‘bertengkar’ dikatakan dalam bentuk peribahasa bagai anjing dengan kucing. Kucing dan
anjing di dalam sejarah kehidupan kita memang merupakan dua ekor binatang yang
tidak pernah rukun. Entah apa sebabnya. Contoh lain ‘keadaan pengeluaran
belanja lebih besar jumlahnya dari pada
pendapatan’ dikatakan dalam bentuk peribahasa besar pasak dari pada tiang. Seharusnya pasak harus lebih kecil
daripada tiang, jika pasak itu lebih besar, tentu tidak mungkin dapat
dimasukkan pada lubang tembus yang ada pada tiang. Karena peribahasa ini
bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan maka lazim juga disebut dengan
nama perumpamaan. Kata-kata seperti, bagaikan,
bak, laksana, dan umpama lazim
digunakan dalam peribahasa. Memang banyak juga peribahasa yang tanpa
menggunakan kata-kata tersebut, namun kesan peribahasanya itu tetap saja
tampak. Misalnya Tong kosong nyaring
bunyinya. Peribahasa tersebut bermakna ‘orang yang tiada berilmu biasanya
banyak cakapnya’. Di sini orang yang tiada berilmu itu diperbandingkan dengan
tong yang kosong. Hanya tong yang kosong kalau dipukul akan berbunyi nyaring;
tong yang berisi penuh tentu tiada akan berbunyi nyaring. Sebaliknya orang
pandai, orang yang banyak ilmunya biasanya pendiam, merunduk, dan tidak pongah.
Keadaan ini disebutkan dengan peribahasa yang berbunyi Bagai padi , semakin berisi, semakin merunduk.
6.
Perbedaan makna istilah dan makna kata terletak pada ketepatan makna itu dalam
penggunaannya secara umum dan secara khusus. Dalam penggunaan bahasa secara
umum acapkali kata-kata itu digunakan secara tidak cermat sehingga maknanya
bersifat umum. Tetapi dalam penggunaan secara khusus, dalam bidang kegiatan
tertentu, kata-kata itu digunakan secara cermat sehingga maknanya pun menjadi
tepat.
Makna sebuah kata, walupun secara
sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan , dapat
menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan
di dalam suatu kalimat. Kalau lepas dari konteks kalimat makna kata itu menjadi
umum dan kabur. Misalnya kata tahanan.
Apa makna kata tahanan? Mungkin saja yang dimaksud dengan tahanan itu adalah
‘orang yang ditahan’, tetapi bisa juga ‘hasil perbuatan menahan’, atau mungkin
makna yang lainnya lagi.
Berbeda dengan kata yang maknanya
masih bersifat umum, makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti.
Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan
dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Jadi, tanpa konteks kalimatnya pun
makna istilah itu sudah pasti. Misalnya kata tahanan tetapi sebagai istilah misalnya istilah dalam bidang hukum
makna kata tahanan itu sudah pasti,
yaitu orang yang ditahan sehubung dengan suatu perkara. Sebagai istilah dalam
bidang kelistrikan kata tahanan itu
bermakna daya yang menahan arus listrik.
7.
Idiom, ungkapan, dan metafora ketiga istilah ini sebenarnya mencakup objek
pembicaraan yang kurang lebih sama. Hanya segi pandangannya yang berlainan.
Idiom dilihat dari segi makna, yaitu “menyimpang” makna idiom ini dari makna
leksikal dan makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Ungkapan dilihat dari
segi ekspresi kebahasaan yaitu dalam usaha penutur untuk menyampaikan pikiran,
perasaan, dan emosinya dalam bentuk-bentuk satuan bahasa tertentu yang dianggap
paling tepat dan paling kena. Sedangkan metafora dilihat dari segi digunakannya
sesuatu untuk memperbandingkan yang lain umpamanya matahari dikatakan atau
diperbandingkan sebagai raja siang, bulan dikatakan sebagai putri malam, dan
pahlawan sebagai bunga bangsa. Jika dilihat dari segi makna , maka raja sing,
putri malam, dan bunga bangsa adalah termasuk contoh idiom. Jika dilihat dari
sei ekspresimaka ketiganya juga termasuk contoh ungkapan, dan jika dilihat dari
segi adanya perbandingan maka ketiganya juga termasuk metafora.
8.
Makna leksikal adalah makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau
bersifat kata. Lalu, karena itu dapat pula dikatakan makna leksikal adalah
makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi
alat indra, atau makan yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita.
Umpamanya kata tikus makna leksikalnya yaitu sebangsa sebangsa binatang
pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus.
Makna denotatif (sering
juga disebut makna denotasional, makna konseptual, atau makna kognitif karena
dilihat dari sudut yang lain) pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab
makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebegai makna yang sesuai dengan
hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman
lainnya. Jadi makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi faktual
objektif. Lalu karena itu makna denotasi sering disebut sebagai “makna
sebenarnya. Umpamanya kata perempuan dan wanita kedua kata ini mempunayi makna
denotasi yang sama yaitu manusia dewasa bukan laki-laki.
9.
Makna konotatif dapat berubah dari waktu ke waktu dalam kehidupan bermasyarakat
sudah menjadi sifat manusia untuk selalu memperhalus pemakaian bahasa. Karena
itu,, diusahakan membentuk kata atau istilah baru untuk mengganti kata atau
istilah yang sudah berkonotasi negatif. Maka dalam bahasa indonesia munculah tuna netra untuk menggantikan buta, tuna
wicara untuk menggantikan bisu, tuna
wisma untuk menggantikan gelandangan, pramuniaga
untuk menggantikan pelayan (toko), pramuwisma
untuk mengganti pembantu rumah tangga, buang
air atau ke belakang untuk menggantikan kencing atau berak, dan mantan untuk menggantikan bekas atau eks.
10.Makna
kolokatif adalah makna yang berkenaan dengan makna kata dalam kaitannya dengan
makna kata lain yang mempunyai “tempat” yang sama dalam sebuah frase (ko=sama,
bersama; lokasi=tempat). Misalnya, kita dapat mengatakan gadis itu cantik; bunga itu indah; dan pemuda itu tampan. Tetapi
kita tidak dapat mengatakan *gadis itu
tampan, *bunga itu molek, * dan pemuda itu cantik. Kita lihat walupun
cantik, indah, tampan, dan molek mempunyai “makna” yang sama, tetapi
masing-masing terkait dengan kata-kata tertentudalam suatu frase.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar